export interface ArticleSection {
  type: 'paragraph' | 'heading' | 'subheading' | 'quote' | 'list' | 'callout' | 'divider'
  text?: string
  items?: string[]
  author?: string
  icon?: string
}

export interface Article {
  slug: string
  title: string
  excerpt: string
  category: string
  categoryColor: string
  tag: string
  tagColor: string
  emoji: string
  readTime: string
  publishedAt: string
  author: string
  authorRole: string
  accent: string
  gradient: string
  border: string
  hoverBorder: string
  featured: boolean
  content: ArticleSection[]
}

export const articles: Article[] = [
  {
    slug: 'kenapa-anak-tidak-tahu-harga-barang',
    title: 'Kenapa Anak Zaman Sekarang Tidak Tahu Harga Barang?',
    excerpt: 'Di era QRIS dan dompet digital, anak tidak pernah melihat uang fisik berpindah tangan. Akibatnya, mereka kehilangan "rasa" terhadap nilai uang. Begini cara mengatasinya.',
    category: 'Parenting & Uang',
    categoryColor: 'bg-emerald-100 dark:bg-emerald-950/50 text-emerald-700 dark:text-emerald-300',
    tag: 'Paling Banyak Dibaca',
    tagColor: 'bg-amber-100 dark:bg-amber-950/40 text-amber-700 dark:text-amber-300',
    emoji: '💰',
    readTime: '4 menit',
    publishedAt: '18 Juni 2025',
    author: 'Tim MisiPintar',
    authorRole: 'Redaksi Literasi Keluarga',
    accent: 'bg-emerald-500',
    gradient: 'from-emerald-500/10 to-teal-500/5',
    border: 'border-emerald-100 dark:border-emerald-900/30',
    hoverBorder: 'hover:border-emerald-300 dark:hover:border-emerald-700',
    featured: true,
    content: [
      { type: 'paragraph', text: 'Coba tanyakan kepada anak Anda: "Berapa harga sebungkus nasi goreng di warung depan rumah?" Kebanyakan anak usia 8–14 tahun hari ini tidak bisa menjawab dengan benar. Bukan karena mereka tidak pintar — tapi karena mereka tidak pernah benar-benar "merasakan" uang berpindah tangan.' },
      { type: 'heading', text: 'Era Digital yang Menghapus Sensasi Membayar' },
      { type: 'paragraph', text: 'Dua puluh tahun lalu, ketika orang tua berbelanja, anak ikut menyaksikan bagaimana uang fisik dihitung, diserahkan, dan kembalian diterima. Ada drama kecil yang mengajarkan: "oh, segini harganya." Ada momen emosional ketika uang yang ada tidak cukup.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Hari ini, orang tua cukup menempelkan ponsel ke mesin EDC — satu ketuk, selesai. Tidak ada uang yang terlihat. Tidak ada proses kognitif yang terjadi pada anak yang menonton. Bagi mereka, belanja adalah: "Ayah/Ibu pegang HP, barang dapat."' },
      { type: 'quote', text: 'Uang yang tidak pernah terlihat adalah uang yang tidak pernah dipelajari nilainya. Anak belajar dari apa yang mereka saksikan, bukan dari apa yang kita ceritakan.', author: 'Dr. Brad Klontz, Psikolog Keuangan' },
      { type: 'heading', text: 'Tiga Dampak Nyata yang Wajib Orang Tua Tahu' },
      { type: 'list', items: [
        'Anak tidak memiliki referensi harga. Ketika diminta membeli sesuatu sendiri untuk pertama kali, mereka mudah tertipu atau tidak tahu apakah harga yang ditawarkan wajar.',
        'Permintaan tidak realistis. "Belikan aku sepatu Rp 800.000" terasa sama mudahnya dengan "belikan aku es krim Rp 8.000" karena keduanya hanya satu klik di aplikasi.',
        'Tidak ada apresiasi terhadap kerja keras orang tua. Uang datang "secara ajaib" dari HP, bukan dari jam kerja yang melelahkan.',
      ]},
      { type: 'subheading', text: 'Lalu, Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?' },
      { type: 'paragraph', text: 'Solusinya bukan dengan kembali ke zaman uang tunai — itu tidak realistis. Solusinya adalah menciptakan sistem yang membuat anak merasakan "pergerakan nilai" secara digital.' },
      { type: 'callout', icon: '💡', text: 'Platform seperti MisiPintar dirancang persis untuk ini: anak mendapatkan saldo virtual melalui usaha nyata (misi/tugas), lalu memutuskan sendiri bagaimana menggunakannya — menabung, berbagi, atau membeli reward. Proses inilah yang menciptakan "sensasi keuangan" di era digital.' },
      { type: 'list', items: [
        'Libatkan anak dalam percakapan harga saat belanja online — tunjukkan nominal sebelum checkout.',
        'Buat sistem "uang saku berbasis pencapaian", bukan uang saku tetap otomatis.',
        'Gunakan aplikasi gamifikasi keuangan agar anak merasakan naik-turunnya saldo akibat keputusan mereka.',
        'Ceritakan secara sederhana berapa jam kerja yang dibutuhkan untuk membeli sebuah barang.',
      ]},
      { type: 'paragraph', text: 'Mendidik anak tentang uang di era digital bukan tentang melarang teknologi — ini tentang menggunakan teknologi dengan cara yang tepat untuk membangun intuisi keuangan yang akan mereka bawa seumur hidup.' },
    ],
  },

  {
    slug: 'delayed-gratification-rahasia-anak-sukses',
    title: 'Delayed Gratification: Rahasia Anak Sukses yang Dimulai dari Usia 5 Tahun',
    excerpt: 'Studi "Marshmallow Test" Stanford membuktikan: anak yang bisa menunda kepuasan instan memiliki prestasi akademik dan keuangan yang jauh lebih baik di masa dewasa.',
    category: 'Psikologi Anak',
    categoryColor: 'bg-indigo-100 dark:bg-indigo-950/50 text-indigo-700 dark:text-indigo-300',
    tag: 'Populer',
    tagColor: 'bg-indigo-100 dark:bg-indigo-950/40 text-indigo-700 dark:text-indigo-300',
    emoji: '🧠',
    readTime: '3 menit',
    publishedAt: '12 Juni 2025',
    author: 'Tim MisiPintar',
    authorRole: 'Redaksi Psikologi Keluarga',
    accent: 'bg-indigo-500',
    gradient: 'from-indigo-500/10 to-purple-500/5',
    border: 'border-indigo-100 dark:border-indigo-900/30',
    hoverBorder: 'hover:border-indigo-300 dark:hover:border-indigo-700',
    featured: false,
    content: [
      { type: 'paragraph', text: 'Pada tahun 1972, psikolog Walter Mischel dari Stanford University melakukan eksperimen sederhana namun revolusioner. Ia menempatkan satu marshmallow di hadapan anak usia 4–5 tahun, lalu berkata: "Kamu boleh makan ini sekarang. Tapi jika kamu bisa menunggunya 15 menit tanpa memakannya, kamu akan mendapat dua."' },
      { type: 'heading', text: 'Apa yang Ditemukan 40 Tahun Kemudian?' },
      { type: 'paragraph', text: 'Mischel kemudian melacak perjalanan hidup anak-anak tersebut selama puluhan tahun. Hasilnya mengejutkan dunia: anak-anak yang berhasil menunggu (delayed gratification) secara konsisten menunjukkan performa lebih baik dalam tes akademik, karier, hubungan sosial, dan — yang paling relevan — pengelolaan keuangan pribadi.' },
      { type: 'quote', text: 'Kemampuan menunda kepuasan adalah salah satu keterampilan paling penting dalam hidup. Dan kabar baiknya: ini bisa diajarkan dan dilatih.', author: 'Walter Mischel, The Marshmallow Test (2014)' },
      { type: 'heading', text: 'Mengapa Ini Makin Penting di Era Digital?' },
      { type: 'paragraph', text: 'Di era streaming, one-click purchase, dan instant delivery, kemampuan menunda kepuasan semakin langka dan semakin berharga. Anak yang terbiasa mendapat apapun secara instan akan mengalami kesulitan luar biasa ketika dunia nyata menuntut kesabaran — menabung untuk rumah, menunggu promosi jabatan, atau bertahan dalam hubungan yang membutuhkan komitmen jangka panjang.' },
      { type: 'subheading', text: '4 Cara Melatih Delayed Gratification pada Anak' },
      { type: 'list', items: [
        'Buat sistem "menabung untuk impian" — anak menetapkan target barang yang diinginkan dan menabung secara bertahap dari uang saku/reward misi mereka.',
        'Terapkan aturan "tunggu 24 jam" sebelum membeli sesuatu yang diinginkan — ini melatih otak untuk membedakan keinginan impulsif dan kebutuhan nyata.',
        'Rayakan proses, bukan hanya hasil — apresiasi setiap milestone kecil dalam perjalanan menabung anak.',
        'Jadikan menunggu menjadi menyenangkan dengan progress bar tabungan yang visual dan gamified.',
      ]},
      { type: 'callout', icon: '🎯', text: 'Fitur Kantong Menabung di MisiPintar dirancang khusus untuk melatih delayed gratification. Anak bisa menetapkan target, melihat progress secara visual, dan merasakan kepuasan yang jauh lebih besar ketika akhirnya mencapai tujuan — bukan sekadar meminta dan mendapatkan.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Tidak ada investasi parenting yang lebih baik daripada mengajarkan anak Anda untuk bersabar. Bukan sabar pasif yang hanya menunggu — tapi sabar aktif yang terus bergerak menuju tujuan.' },
    ],
  },

  {
    slug: '7-misi-harian-membentuk-karakter-disiplin',
    title: '7 Misi Harian yang Terbukti Membentuk Karakter Disiplin Anak',
    excerpt: 'Dari merapikan tempat tidur hingga membaca 20 halaman buku — ini daftar misi sederhana yang berdampak besar pada pembentukan disiplin dan rasa tanggung jawab anak.',
    category: 'Tips Praktis',
    categoryColor: 'bg-amber-100 dark:bg-amber-950/50 text-amber-700 dark:text-amber-300',
    tag: 'Panduan',
    tagColor: 'bg-amber-100 dark:bg-amber-950/40 text-amber-700 dark:text-amber-300',
    emoji: '🎯',
    readTime: '5 menit',
    publishedAt: '5 Juni 2025',
    author: 'Tim MisiPintar',
    authorRole: 'Tim Kurikulum & Misi',
    accent: 'bg-amber-500',
    gradient: 'from-amber-500/10 to-orange-500/5',
    border: 'border-amber-100 dark:border-amber-900/30',
    hoverBorder: 'hover:border-amber-300 dark:hover:border-amber-700',
    featured: false,
    content: [
      { type: 'paragraph', text: 'Aristoteles pernah berkata: "Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu tindakan, melainkan sebuah kebiasaan." Tidak ada cara yang lebih efektif membangun karakter anak selain melalui kebiasaan harian yang konsisten — dan misi yang tepat adalah fondasinya.' },
      { type: 'heading', text: 'Mengapa Misi Harian Lebih Efektif dari Ceramah?' },
      { type: 'paragraph', text: 'Penelitian neurosains anak menunjukkan bahwa otak anak belajar paling efektif melalui pengalaman langsung dan umpan balik instan. Ceramah tentang disiplin mengaktifkan otak secara pasif. Misi harian yang diselesaikan dan diberi reward mengaktifkan sistem dopamin — pusat motivasi dan pembelajaran otak.' },
      { type: 'subheading', text: '7 Misi yang Direkomendasikan oleh Tim Kurikulum MisiPintar' },
      { type: 'list', items: [
        '🛏️ Rapikan Tempat Tidur Sendiri (Setiap Pagi) — Misi paling sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Admiral William McRaven dalam pidato wisuda UT Austin yang viral berkata: "Jika ingin mengubah dunia, mulailah dengan merapikan tempat tidur." Anak yang memulai hari dengan satu pencapaian kecil akan termotivasi menyelesaikan lebih banyak tugas.',
        '📚 Baca Buku 20 Menit (Non-Pelajaran) — Membaca fiksi membangun empati, kosakata, dan kemampuan berkonsentrasi. Target 20 menit per hari adalah ambang minimal yang direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics untuk anak 6–12 tahun.',
        '🍽️ Bantu Menyiapkan atau Membereskan Meja Makan — Mengajarkan kontribusi kepada keluarga secara nyata. Anak belajar bahwa makanan tidak "tiba-tiba ada" — ada proses dan usaha di baliknya.',
        '✏️ Selesaikan PR/Tugas Sekolah Sebelum Main — Membangun pola pikir "kewajiban sebelum hak" yang akan sangat berguna di kehidupan dewasa mereka.',
        '🧹 Bersihkan Kamar Sendiri (1x Seminggu) — Misi mingguan yang mengajarkan tanggung jawab terhadap lingkungan pribadi. Kamar yang rapi terbukti mengurangi stres dan meningkatkan fokus belajar.',
        '💧 Minum 8 Gelas Air Sehari + Tidur Tepat Waktu — Misi kesehatan yang membangun disiplin fisik. Anak yang cukup tidur dan terhidrasi terbukti memiliki performa akademik dan emosional yang lebih baik.',
        '🤝 Lakukan Satu Kebaikan Tanpa Diminta — Misi karakter paling penting: inisiatif kebaikan. Dari memberi makan kucing tetangga hingga membantu adik belajar — kebiasaan ini membangun empati dan kepemimpinan.',
      ]},
      { type: 'callout', icon: '⚡', text: 'Tips Pro: Jangan berikan semua 7 misi sekaligus. Mulai dengan 2–3 misi yang paling relevan untuk anak Anda. Tambahkan misi baru setiap 2 minggu setelah misi sebelumnya menjadi kebiasaan. Konsistensi lebih penting dari kuantitas.' },
      { type: 'heading', text: 'Berapa Reward yang Tepat?' },
      { type: 'paragraph', text: 'Reward tidak harus besar — justru reward kecil yang konsisten lebih efektif untuk membangun kebiasaan. Dalam sistem MisiPintar, setiap misi memiliki nilai saldo virtual yang ditetapkan orang tua. Yang terpenting bukan nominalnya, tapi konsistensi pemberian reward sesuai kualitas penyelesaian misi.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Mulailah hari ini. Pilih satu misi dari daftar di atas, diskusikan dengan anak Anda, dan tetapkan reward yang menyenangkan. Satu kebiasaan baik yang dimulai hari ini adalah warisan terbaik yang bisa Anda berikan.' },
    ],
  },

  {
    slug: 'tiga-kantong-uang-metode-terbukti',
    title: 'Ajarkan 3 Kantong Uang Sejak Dini: Tabung, Sedekah, Belanja',
    excerpt: 'Konsep "three-jar method" adalah metode literasi keuangan paling efektif untuk anak usia 6–14 tahun. Anak belajar mengalokasikan pendapatan bahkan sebelum memiliki rekening bank.',
    category: 'Literasi Keuangan',
    categoryColor: 'bg-rose-100 dark:bg-rose-950/50 text-rose-700 dark:text-rose-300',
    tag: 'Terbaru',
    tagColor: 'bg-rose-100 dark:bg-rose-950/40 text-rose-700 dark:text-rose-300',
    emoji: '🐷',
    readTime: '3 menit',
    publishedAt: '1 Juni 2025',
    author: 'Tim MisiPintar',
    authorRole: 'Redaksi Literasi Keluarga',
    accent: 'bg-rose-500',
    gradient: 'from-rose-500/10 to-pink-500/5',
    border: 'border-rose-100 dark:border-rose-900/30',
    hoverBorder: 'hover:border-rose-300 dark:hover:border-rose-700',
    featured: false,
    content: [
      { type: 'paragraph', text: 'Bayangkan seorang anak usia 8 tahun yang setiap kali mendapat uang saku Rp 10.000, secara otomatis membaginya: Rp 5.000 untuk tabungan mimpi, Rp 2.000 untuk amal, dan Rp 3.000 untuk jajan. Kedengarannya seperti mimpi? Ratusan keluarga Indonesia membuktikan ini mungkin — dengan metode tiga kantong yang tepat.' },
      { type: 'heading', text: 'Apa itu Three-Jar Method?' },
      { type: 'paragraph', text: 'Three-jar method (metode tiga kantong) adalah sistem alokasi keuangan sederhana yang membagi setiap pemasukan anak ke tiga tujuan berbeda. Metode ini pertama kali dipopulerkan oleh Beth Kobliner dalam buku "Make Your Kid a Money Genius" dan telah digunakan oleh jutaan keluarga di seluruh dunia.' },
      { type: 'subheading', text: 'Tiga Kantong dan Fungsinya' },
      { type: 'list', items: [
        '🐷 Kantong Tabungan (Save) — Alokasikan 50% untuk tujuan jangka menengah atau panjang. Bisa untuk sepatu baru, gadget, buku koleksi, atau apapun yang membutuhkan beberapa minggu/bulan untuk dicapai. Kantong ini mengajarkan delayed gratification.',
        '❤️ Kantong Berbagi (Share/Sedekah) — Alokasikan 10-20% untuk kebaikan. Bisa untuk kotak amal masjid, membantu teman yang membutuhkan, atau menyumbang buku untuk perpustakaan sekolah. Kantong ini membangun karakter empati dan kepedulian sosial.',
        '🛍️ Kantong Belanja (Spend) — Sisa 30-40% untuk pengeluaran bebas sehari-hari: jajan, beli kartu koleksi, atau hiburan kecil. Kantong ini mengajarkan penganggaran dan prioritas dalam batas yang aman.',
      ]},
      { type: 'quote', text: 'Anak yang belajar mengalokasikan uang sejak kecil akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak pernah kehabisan uang sebelum akhir bulan.', author: 'Beth Kobliner, Financial Literacy Expert' },
      { type: 'heading', text: 'Cara Memulai dengan Anak Anda' },
      { type: 'list', items: [
        'Libatkan anak dalam menentukan persentase pembagian — kepemilikan keputusan meningkatkan komitmen.',
        'Gunakan toples fisik yang transparan untuk anak yang lebih kecil (5–8 tahun) agar pergerakan uang terlihat nyata.',
        'Untuk anak yang lebih besar (9+), gunakan sistem digital seperti MisiPintar dengan fitur Kantong Menabung yang bisa disesuaikan.',
        'Rayakan ketika kantong tabungan mencapai target — buat momen pembelian pertama mereka menjadi perayaan keluarga.',
      ]},
      { type: 'callout', icon: '🌟', text: 'Dalam MisiPintar, orang tua bisa mengatur pembagian kantong secara digital. Anak bisa melihat visual progress setiap kantong secara real-time, yang membuat pengalaman menabung jauh lebih engaging dan motivating dibandingkan toples fisik biasa.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Mulailah minggu ini. Duduk bersama anak Anda, ambil tiga wadah (atau buka aplikasi MisiPintar), dan buat perjanjian pertama tentang uang bersama keluarga Anda. Momen kecil ini bisa menjadi awal dari sebuah kebiasaan finansial seumur hidup.' },
    ],
  },

  {
    slug: 'kisah-nyata-keluarga-andi-dari-game-ke-tabungan',
    title: 'Dari Tagihan Game Rp 300ribu/Bulan ke Tabungan Rp 500ribu: Kisah Nyata Keluarga Andi',
    excerpt: 'Andi (38) hampir menyerah mendidik anaknya yang kecanduan top-up game online. Tiga bulan dengan MisiPintar, anaknya berhenti meminta — dan mulai menabung sendiri.',
    category: 'Studi Kasus',
    categoryColor: 'bg-violet-100 dark:bg-violet-950/50 text-violet-700 dark:text-violet-300',
    tag: 'Kisah Nyata',
    tagColor: 'bg-violet-100 dark:bg-violet-950/40 text-violet-700 dark:text-violet-300',
    emoji: '📊',
    readTime: '6 menit',
    publishedAt: '25 Mei 2025',
    author: 'Redaksi MisiPintar',
    authorRole: 'Kisah Keluarga',
    accent: 'bg-violet-500',
    gradient: 'from-violet-500/10 to-purple-500/5',
    border: 'border-violet-100 dark:border-violet-900/30',
    hoverBorder: 'hover:border-violet-300 dark:hover:border-violet-700',
    featured: false,
    content: [
      { type: 'paragraph', text: 'Andi Pratama (38) adalah seorang teknisi listrik di Semarang. Setiap bulan, tanpa gagal, anaknya Rafi (11) akan meminta uang untuk top-up game mobile. Awalnya Rp 50.000. Lalu Rp 100.000. Sampai suatu hari tagihan bulanannya mencapai Rp 300.000 — setara dengan seminggu belanja keluarga.' },
      { type: 'quote', text: '"Saya sudah coba larang, sudah coba sembunyikan HP-nya, sudah marah-marah. Tapi selalu balik lagi. Rafi pintar, tapi semua energinya habis untuk game. Saya hampir menyerah."', author: 'Andi Pratama, Bapak Rafi' },
      { type: 'heading', text: 'Pertemuan dengan MisiPintar' },
      { type: 'paragraph', text: 'Andi menemukan MisiPintar melalui sebuah postingan di grup WhatsApp orang tua sekolah. Awalnya skeptis — "aplikasi lagi? Rafi sudah terlalu banyak main aplikasi." Tapi kontennya berbeda: bukan aplikasi game baru, tapi sistem gamifikasi yang mengubah tugas rumah menjadi misi berhadiah.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Dengan bimbingan komunitas pengguna MisiPintar, Andi membuat 5 misi pertama untuk Rafi: rapikan kamar, kerjakan PR tanpa diingatkan, bantu ibu cuci piring, baca buku 20 menit, dan olahraga 15 menit. Total reward per hari jika semua selesai: Rp 15.000 saldo virtual.' },
      { type: 'subheading', text: 'Minggu Pertama: Penolakan' },
      { type: 'paragraph', text: '"Rafi bilang, \'Yah, itu uang pura-pura, nggak bisa buat beli diamond game.\'" kenang Andi. Tapi Andi tidak menyerah. Ia menambahkan satu aturan: uang saku fisik mingguan Rafi dihapus, digantikan sepenuhnya oleh saldo MisiPintar yang bisa ditukar dengan uang tunai ketika mencapai target.' },
      { type: 'subheading', text: 'Minggu Ketiga: Perubahan Pertama' },
      { type: 'paragraph', text: 'Sesuatu berubah pada minggu ketiga. Rafi mulai mengecek aplikasinya sendiri untuk melihat berapa saldo yang sudah terkumpul. Ia mulai meminta misi tambahan. "Yah, ada misi lain nggak yang bisa aku kerjain?" Pertanyaan yang tidak pernah Andi bayangkan akan keluar dari mulut anaknya.' },
      { type: 'heading', text: 'Tiga Bulan Kemudian: Transformasi yang Mengejutkan' },
      { type: 'list', items: [
        'Top-up game turun dari Rp 300.000 menjadi nol — bukan karena dilarang, tapi karena Rafi memilih menabung untuk sesuatu yang "lebih nyata".',
        'Rafi berhasil mengumpulkan Rp 500.000 saldo virtual dalam 3 bulan — yang ditukar menjadi uang tunai untuk membeli sepatu futsal impiannya.',
        'Nilai matematika Rafi naik dari 70 menjadi 85 — efek samping dari kebiasaan mengerjakan PR sebagai misi harian.',
        'Rafi mulai mengajari adiknya cara mendapatkan "misi" — ia menjadi role model disiplin dalam keluarga.',
      ]},
      { type: 'quote', text: '"Yang paling membuat saya terharu bukan soal uangnya. Tapi malam itu ketika Rafi datang ke saya dan bilang: \'Yah, aku mau nabung buat beliin Ibu kado ulang tahun.\' Saya nggak bisa nahan air mata."', author: 'Andi Pratama, 3 bulan setelah menggunakan MisiPintar' },
      { type: 'callout', icon: '💚', text: 'Kisah Rafi bukan keajaiban — ini adalah hasil dari sistem yang tepat, konsistensi orang tua, dan kepercayaan bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang menunggu untuk diaktifkan dengan cara yang benar.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Apakah anak Anda juga memiliki cerita yang sedang menunggu untuk ditulis? Mulai hari ini, buat misi pertama bersama keluarga Anda.' },
    ],
  },

  {
    slug: 'qris-ewallet-bahaya-uang-tidak-terasa',
    title: 'QRIS, E-Wallet, dan Bahaya "Uang Tidak Terasa": Panduan Orang Tua Digital',
    excerpt: 'Ketika transaksi hanya butuh satu ketuk layar, anak kehilangan kesempatan belajar nilai uang secara emosional. Inilah mengapa pendidikan keuangan berbasis teknologi menjadi sangat krusial.',
    category: 'Teknologi & Anak',
    categoryColor: 'bg-cyan-100 dark:bg-cyan-950/50 text-cyan-700 dark:text-cyan-300',
    tag: 'Edukasi',
    tagColor: 'bg-cyan-100 dark:bg-cyan-950/40 text-cyan-700 dark:text-cyan-300',
    emoji: '📱',
    readTime: '4 menit',
    publishedAt: '20 Mei 2025',
    author: 'Tim MisiPintar',
    authorRole: 'Redaksi Teknologi & Keluarga',
    accent: 'bg-cyan-500',
    gradient: 'from-cyan-500/10 to-blue-500/5',
    border: 'border-cyan-100 dark:border-cyan-900/30',
    hoverBorder: 'hover:border-cyan-300 dark:hover:border-cyan-700',
    featured: false,
    content: [
      { type: 'paragraph', text: 'Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan transaksi digital tercepat di Asia Tenggara. Per 2024, lebih dari 70% transaksi ritel di kota besar sudah menggunakan QRIS, e-wallet, atau transfer digital. Ini kabar baik untuk ekonomi — tapi ada sisi gelap yang jarang dibicarakan: dampaknya terhadap persepsi nilai uang pada anak.' },
      { type: 'heading', text: 'Fenomena "Pain of Paying" yang Menghilang' },
      { type: 'paragraph', text: 'Para ekonom menyebutnya "pain of paying" — rasa sakit psikologis yang kita rasakan saat mengeluarkan uang. Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita membayar dengan kartu atau digital, rasa sakit ini jauh lebih kecil dibanding membayar tunai. Ini mengapa orang cenderung berbelanja lebih boros dengan metode non-tunai.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Bagi anak-anak yang tumbuh hanya melihat transaksi digital, "pain of paying" ini hampir tidak ada. Uang terasa tidak nyata — dan ini berbahaya untuk pembentukan kebiasaan keuangan jangka panjang.' },
      { type: 'quote', text: 'Kartu kredit dan dompet digital adalah alat yang sempurna untuk orang dewasa yang sudah memiliki disiplin keuangan — dan mimpi buruk untuk anak-anak yang belum memilikinya.', author: 'Kerwin Rae, Business Educator' },
      { type: 'heading', text: 'Tanda-Tanda Anak Mengalami "Digital Money Blindness"' },
      { type: 'list', items: [
        'Tidak bisa menjawab berapa harga barang-barang kebutuhan sehari-hari.',
        'Sering meminta top-up/saldo tanpa menyadari berapa total yang sudah dikeluarkan.',
        'Tidak memiliki konsep "uang habis" — selalu mengira ada uang lagi.',
        'Tidak pernah mempertimbangkan harga sebelum meminta sesuatu.',
        'Mudah panik ketika tiba-tiba harus membayar dengan uang tunai.',
      ]},
      { type: 'subheading', text: 'Solusi: Teknologi Melawan Teknologi' },
      { type: 'paragraph', text: 'Ironis, tapi solusi terbaik untuk masalah yang diciptakan teknologi adalah teknologi yang lebih baik. Bukan kembali ke uang tunai — tapi menggunakan platform digital yang sengaja dirancang untuk menciptakan "rasa" keuangan yang hilang.' },
      { type: 'list', items: [
        'Gunakan aplikasi yang menunjukkan saldo secara visual dan real-time — anak harus bisa "melihat" uangnya berkurang.',
        'Terapkan sistem "earn before spend" — anak mendapatkan saldo digital melalui usaha, bukan pemberian otomatis.',
        'Aktifkan notifikasi setiap kali transaksi terjadi — agar anak terbiasa dengan konsep "uang keluar".',
        'Diskusikan laporan pengeluaran bulanan bersama anak — jadikan ini ritual keluarga yang menyenangkan.',
      ]},
      { type: 'callout', icon: '📱', text: 'MisiPintar dirancang dengan prinsip "meaningful money experience" — setiap saldo yang anak dapatkan terasa karena ada usaha di baliknya, dan setiap pengeluaran terasa karena ada pilihan yang harus dibuat. Ini adalah simulasi keuangan nyata dalam lingkungan yang aman.' },
      { type: 'paragraph', text: 'Masa depan adalah digital — dan anak Anda perlu siap menghadapinya dengan melek keuangan, bukan buta keuangan. Mulailah percakapan tentang uang digital hari ini, sebelum terlambat.' },
    ],
  },
]

export function getArticleBySlug(slug: string): Article | undefined {
  return articles.find((a) => a.slug === slug)
}

export function getRelatedArticles(currentSlug: string, limit = 3): Article[] {
  return articles.filter((a) => a.slug !== currentSlug).slice(0, limit)
}

export function getAllSlugs(): string[] {
  return articles.map((a) => a.slug)
}
